“Pemberian award kepada orang tersebut menunjukkan ketidakpahaman Dewan Kota Oxford terhadap sepak terjang orang tersebut dan kondisi Provinsi Papua dan Papua Barat yg sebenarnya… termasuk pembangunan dan kemajuannya,” bunyi pernyataan resmi Kemlu RI sebagaimana dimuat di portal www.kemlu.go.id, Rabu (17/7), Sebagai berikut :

  1. Indonesia menghargai sikap tegas Pemerintah Inggris yang konsisten dalam mendukung penuh kedaulatan dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan karenanya sikap Dewan Kota Oxford tidak punya makna apapun.
  2. Indonesia mengecam keras pemberian award oleh Dewan Kota Oxford kepada seseorang bernama Benny Wenda, pegiat separatisme Papua yang memiliki rekam jejak kriminal di Papua.
  3. Pemberian award  ini menunjukkan ketidakpahaman Dewan Kota Oxford terhadap sepak terjang yang bersangkutan dan kondisi Provinsi Papua dan Papua Barat yg sebenarnya, termasuk pembangunan dan kemajuannya.
  4. Posisi Indonesia terhadap kelompok separatisme akan tetap tegas. Indonesia tidak akan mundur satu inci pun untuk tegakkan NKRI.

Ditegaskan Kemlu RI, posisi Indonesia terhadap gerakan separatisme akan tetap tegas dan tidak akan mundur satu senti pun untuk tegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Indonesia menghargai sikap tegas Pemerintah Inggris yang konsisten dalam mendukung penuh kedaulatan dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan karenanya sikap Dewan Kota Oxford tidak punya makna apapun,” tegas pernyataan tersebut.

Hubungan Erat Inggris-Indonesia

Sementara itu Kementerian Luar Negeri Inggris dalam pernyataan medianya sebagaimana dimuat dalam portal www.gov.uk, Selasa (16/7) menegaskan, Inggris dan Indonesia memiliki hubungan yang erat, dengan banyak kepentingan dan nilai-nilai yang sama.

“Kami bekerja sama dalam mengatasi beberapa tantangan seperti terorisme dan pemanasan global, serta berhubungan erat dalam G20,” bunyi pernyataan tersebut.

Menurut pernyataan media itu, Inggris merupakan salah satu investor terbesar di negara ini. Pada April 2012, Perdana Menteri Inggris mengumumkan komitmen untuk menggandakan nilai perdagangan (baik barang dan jasa) sebesar 4,4 miliar poundsterling pada tahun 2015.

“Kami bekerja sama dengan badan-badan lokal dan internasional untuk mengatasi tantangan global termasuk hak asasi manusia dan demokrasi, keamanan regional, kesejahteraan dan perubahan iklim,” bunyi pernyataan media itu.

Selain itu, menurut pernyataan media Kemlu Inggris yang bersumber dari Kedutaan Besar Inggris di Jakarta itu, pihaknya juga menyediakan bantuan, pelayanan, dan saran praktis kepada warga negara Inggris yang sedang mengunjungi atau tinggal di Indonesia.

“Kami juga mengurus aplikasi visa bagi mereka yang ingin memasuki Inggris baik untuk wisata, belajar, menetap atau bekerja,” pungkas pernyataan itu.

Oxford Bedalih Benny Wenda Seorang Pejuang

Hasil gambar untuk Kantor kemlu Inggris

Dalam siaran pers, Pemimpin Dewan Kota Oxford, Susan Brown, menjelaskan alasan pemberian penghargaan Freedom of Oxford kepada Benny Wenda. “Sejak Benny Wenda menjadikan Oxford rumah dan markasnya untuk berkampanye bagi rakyat Papua Barat, penduduk Oxford dan Dewan Kota telah mengambil alasannya sendiri,” katanya. “Kami sangat senang memberikan kehormatan ini kepada seorang warga Oxford yang telah berkampanye tanpa kenal lelah atas nama rakyatnya,” ujarnya, seperti dikutip Asia Pacific Report, Senin (15/7/2019).

Benny Wenda berterima kasih kepada Dewan Kota Oxford dan masyarakat Oxford atas penghargaan tersebut. “Ketika saya melarikan diri dari penjara Indonesia di Papua Barat pada tahun 2002, Oxford adalah salah satu tempat pertama di dunia yang menyambut saya dan keluarga saya,” katanya.

“Saya diberi suaka di Inggris dan menjadikan Oxford rumah saya. Oxford adalah salah satu yang pertama kali mendengar seruan rakyat Papua atas keadilan, hak asasi manusia dan penentuan nasib sendiri dan penghargaan ini menunjukkan bahwa orang-orang Oxford mendengarkan dan merespons,” ujarnya.

“Orang-orang Papua Barat tahu bahwa perjuangan kami bukan hanya masalah bagi orang Papua Barat sekarang, tetapi telah menjadi masalah yang telah menyentuh hati ribuan orang di seluruh dunia. Perjalanan saya membawa saya ke sini dari hutan Papua Barat dan bagian dalam sel penjara Indonesia,” paparnya.

“Tetapi sampai kita dapat kembali ke Papua Barat yang merdeka, saya dan keluarga saya tidak benar-benar bebas. Saya berterima kasih kepada orang-orang Oxford atas semua bantuan mereka ketika kami bekerja untuk menyelesaikan perjalanan pulang kami yang panjang.”

Menurut siaran pers, Benny Wenda menetap di kota itu setelah membaca buku “Poisoned Arrows” karya George Monbiot, seorang penduduk Oxford yang pertama kali mengungkap kisah orang-orang suku di Papua Barat. Penulis itu menggambarkan kampanye transmigrasi pemerintah Indonesia untuk mengusir warga Papua Barat dari tanah leluhur mereka.

(EN/IR/ES/SOF) MHI Hasil gambar untuk mediahukumindonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s